Sistem Budidaya Semi Intensif

Pola pengelolaan usaha budi daya perairan semi-intensif merupakan perbaikan dari pola eksensif plus sehingga sering disebut  pola ekstensif yang diperbaiki. Penerapan pola semi -intensif dicirikan dari beberapa faktor:

  1. Petak (pada tambak) pemeliharaan biota lebih kecil dibandingkan pada pengelolaan ekstensif dan ekstensif plus
  2. Padat penebaran lebih tinggi. Pada ikan bandeng antara 1-2 ekor/m2, sedangkan pada udang windu antara 5-20 ekor/m2
  3. Kegiatan pengelolaan wadah pemeliharaan semakin banyak. Pada tambak, kegiatan dimulai dari pengelolaan tanah, pengapuran,dan pemupukan. Selama pemeliharaan, biota budi daya juga diberikan pakan buatan dan tambahan secara teratur, 1-2 kali/hari.
  4. Pengantian air dilakukan 5-20% setiap hari (tabel dibawah)
Tabel : Perbandingan Pola Pengelolaan Pada Budidaya Udang di Tambak
Variable Ekstensif Semi-Intensif Intensif
Luas petakan (ha)

Padat tebar (ekor/m²)

Pakan

Volume ganti air (%/hari)

> 1

< 5a

lami + tambahan

bergantung

0,5-1,0

5-20

Buatan + tambahan

5-20

0,2-0,5

> 20

Buatan

5-30

Sistem pengelolaan semi-intensif merupakan teknologi budi daya yang dianggap cocok untuk budi daya udang di tambak di Indonesia karena dampaknya terhadap lingkungan relatif lebih kecil. Selain kebutuhan sarana dan prasarana produksi yang jauh lebih murah dibandingkan tambak intensif, yang lebih pokok dari sistem semi-intensif ini, yaitu memberikan kelangsungan produksi dan usaha dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sistem Budidaya Semi Tradisonal

Sistem Budidaya Semi Intensif

Manajemen pengelolaan tambak semi-intensif tidak serumit tambak intensif. Itu karena padat penebaran benur/benih yang tidak terlalu tinggi dan kebutuhan pakan yang tidak sepenuhnya mengandalkan pakan buatan. Penurunan kualitas air juga tidak sedrastis tambak intensif. Itu terjadi karena akibat dari penumpukan limbah organik yang berasal dari sisa-sisa pakan dan kotoran udang. Sisa-sisa dan kotoran semakin menumpuk sejalan dengan aktifitas budi daya. namun, pada tambak semi-intensif, kualitas air masih bisa dipertahankan dalam kondisi yang cukup baik hingga menjelang panen.

Jika dibandingkan tambak semi-intensif, penumpukan limbah organik pada tambak intensif jauh lebih serius. Pada akhirnya, polusi limbah ini akan berdampak pada merosotnya kualitas air an kualitas tanah dasar tambak. Meningkatnya kandungan amonia (NH) dan hdrogen sulfida (H2S) yang bersifat racun itu adalah fenomena umum yang dijumpai di tambak-tambak intensif. Sumber utama amonia dalam tambak intensif adalah hasil perombakan bahan organik. Sedangkan sumber bahan organik terbesar berasal dari pakan. Disamping itu, fluktuasi parameter kualitas air lainnya, seperti pH, DO (oksigen terlarut) juga kerap kali  terjadi yang bebrbarengan dengan terjadinya blooming fitoplankton. Tentu guncangan-guncangan kualitas air itu akan membuat udang stres sehingga menjadi rentan terhadap serangan  aptogen. Apalagi pada kondisi kualitas air yang buruk itu, justru merupakan ‘lahan subur’ tumbuhnya organisme patogen. Karenanya, pada tambak intensif faktor kegagalan karena serangan penyakit akan lebih besar.

Besarnya nilai keuntungan yang diperoleh dari tambak semi-intensif tentu tak lepas dari biaya kebutuhan sarana dan prasarana yang jauh lebih murah, yaitu bisa mencapai empat kali lebih kecil dibandingkan tambak intensif. Karenanya, keuntungan pertama dari tambak semi-intensif akan lebih besar dari tambak intensif terhadap biaya oprasional awal. Lebih dari itu, penerapan tingkat teknologi budidaya ini juga berpengaruh terhadap hasil produksi pada masa pemeliharaan berikutnya.

Pada tambak intensif, kecenderungan penurunan produksi bisa mencapai 15% dari jumlah panen sebelumnya. Sedangkan pada tambak semi-intensif, penurunan produksi sekitar 10% saja. Oleh sebab itu, menurut Pasaribu (1995) penetapan teknologi budidaya udang semi-intensif akan lebih efisien dibandingkan teknologi ekstensif dan intensif. Hal ini didasarkan pada perhitungan ekonomis yang memberikan tingkat keuntungan yang paling optimal pada jangka waktu yang paling lama. Dengan demikian, secara teknis investasi, usaha budidaya udang semi-intensif adalah yang paling memenuhi tiga persyaratan investasi, yaitu mempunyai nilai internal rate of return (IRR) sesuai yang diharapkan, net present value (NPV) psitif, dan net benefit cost (Net B/C) lebih dari satu.

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Pin on Pinterest0Share on LinkedIn0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>