Tulungagung Menguasai 90% Pasar Ikan Hias Indonesia

Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar khususnya ikan hias. Namun sampai saat ini pemanfaatan potensi ikan hias ini belum dilakukan secara optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari ekspor ikan hias Indonesia yang masih kalah bersaing dengan berbagai Negara ASEAN lainnya seperti Singapura dan Malaysia.

Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan, bahwa infrastruktur pengembangan produksi ikan hias saat ini harus terus ditingkatkan khususnya yang berkaitan dengan distribusi, transportasi dan juga logistik.

Koki Tossa

Ikan Mas Koki Tossa, salah satu primadona di Tulungagung

“Untuk dapat bertahan di era Pasar Bebas ASEAN nanti, kita harus melakukan sinergi terhadap seluruh kekuatan dan stake holder yang terkait dengan ikan hias, sehingga naninya mampu memperkuat mata rantai produksi ikan hias dari hulu hingga hilir. Dengan begitu Indonesia akan mampu bersaing dengan Negara lainnya,” ujar Slamet.

Saat ini salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi besar di sektor budidaya ikan hias adalah Kabupaten Tulungagung. Pembudidaya ikan hias di Kabupaten Tulungagung saat ini tercatat sebanyak 2.256 RTP (Rumah Tangga Pembudidaya) dimana jumlah pembudidaya mencapai 3.396 orang, para pembudidaya ini terpusat di Kecamatan Kedungwaru, Boyolangu, Tulungagung, Sumbergempol.

Hasil budidaya ikan hias dari Kabupaten Tulungagung sendiri sudah menguasai hampir 90% pangsa pasar di Indonesia dan bahkan sebagian hasilnya sudah diekspor ke berbagai negeri tetangga. Salah satu jenis ikan hias yang diekspor dan dijadikan sebagai maskot yaitu ikan Mas Koki, terutama strain tosa,  dimana jenis ini merupakan produk unggulan Kabupaten Tulungagung untuk dikembangkan demi memenuhi permintaan pasar.

Pada saat ini pemasaran ikan konsumsi dan ikan hias dari Kabupaten Tulungagung, meliputi Bali/Denpasar, Jakarta, Bandung, Tegal, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Surabaya, sebagian Sulawesi, Sumatera, dan untuk ekspor ikan hias telah menjalin hubungan dengan eksportir dari Jakarta, Bali, dan Surabaya.

Berdasarkan data dari yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, pembudidaya ikan hias saat ini menempati urutan pertama dalam rumah tangga usaha perikanan, dimana pendapatan tertinggi mencapai Rp 50 juta per tahunnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *